Hadits Mengenai Amal Anak Adam Setelah Wafat

Hadits berikut ini adalah hadits yang cukup populer, yaitu :

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika Anak Adam meninggal maka terputus ‘amalnya kecuali dari 3 (perkara) : Shodaqoh jariyah, ‘ilmu yang bermanfaat, dan anak Sholeh yang berdo’a baginya”

Di beberapa tempat ataupun kesempatan termasuk di berbagai situs internet, hadits dengan redaksi di atas dinisbatkan sebagai hadits Riwayat Muslim, namun jika kita melihat dalam kitab Shahih Muslim, ternyata ada sedikit perbedaan lafadz yaitu :

حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة ( يعني ابن سعيد ) وابن حجر قالوا حدثنا إسماعيل ( هو ابن جعفر ) عن العلاء عن أبيه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إذا مات الإنسان انقطع عنه عمله إلا من ثلاثة إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub dan Qutaibah (yakni Ibnu Sa’id) dan Ibnu Hajar, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Isma’il (dan dia adalah Ibnu Ja’far) dari al-’Ala’i dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : “Jika seorang manusia mati, terputus darinya ‘amalnya kecuali dari 3 (perkara) : Shodaqoh jariyah, atau ‘ilmu yang bermanfa’at, atau anak sholeh yang berdo’a baginya”. (HR. Muslim 14-(1631)).

Hadits iman Muslim tersebut memiliki mutabi’ dari hadits Imam Abu Dawud no.2880 dengan sanad : Telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’i bin Sulaiman al-Mu’adzan bin Wahab dari Sulaiman yaitu Ibnu Bala, dari al-’Ala’i dengan sanad dan matan seperti di atas.

Secara makna, memang tidak ada perbedaan yang mencolok, karena hanya berbeda antara ابْنُ آدَمَ (anak Adam) dengan الإنسان (seorang manusia), namun secara riwayat tentulah kita akan katakan bahwa yang mahfudz (yang terjaga lafadznya) adalah sebagaimana yang tercantum dalam kitab Hadits di atas.

Namun bisa jadi kesalahan seperti ini adalah kesalahan yang dimaafkan karena banyak juga para imam besar kaum muslimin melakukannya, dan mereka tidak menganggapnya sebagai masalah, mungkin karena memang tidak mengubah substansinya. walaupun memang lebih baik disampaikan dengan lafadz apa adanya.

Kekeliruan penulisan lafadz itu bahkan terdapat di beberapa kitab sebagian ulama, misalnya : Majmu’ Fataawaa Ibni Taimiyyah (1/191), Majmu’ Fataawaa Ibni Baaz (4/340), Miftaah Daaris-Sa’adah li-Ibnil-Qayyim (tahqiq ‘Aliy Al-Halabiy, 1/525), dan yang lainnya.

Dirangkum dari : http://myquran.com/forum/showthread.php/8058-Ketika-Anak-Adam-Mati-….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>